Wanita Ini Dikritik Karena “Membawa Bayi” ke Tempat Ujian, Tapi Begitu Tahu Alasan Dibaliknya, Semua Orang Langsung Memujinya!

Banyak kaum wanita di Afganistan yang buta huruf dan dianggap sebagai warga kelas dua. Namun, ada yang berbeda dengan ibu muda ini.

Antara mahasiswa yang ikut ujian di Nasir Khusraw Private University, ada satu orang yang menonjol.
Ketika orang lain mengerjakan tes di meja, wanita ini malah mengerjakannya di lantai.

Jahantab Ahmadi adalah seorang ibu dari 3 anak yang berusia 25 tahun.
Dia ditemukan sedang duduk dilantai mengerjakan ujian masuk sebuah perguruan tinggi di Afganistan.

Awalnya, dia bersama orang-orang lain mengerjakan tes di meja. Tidak lama kemudian, anaknya terus menangis sehingga dia terpaksa pindah ke lantai agar tidak menganggu peserta lain.
Jahantab pun menenangkan bayinya sambil fokus kepada soal ujian.

Mungkin kamu bertanya, mengapa anaknya harus dibawa ke tempat ujian? Diketahui kalau anaknya yang paling kecil terinfeksi virus di telinganya.

Jahantab yang penuh harapan akan masa depannya itu menikah setelah lulus dari SMA pada usia 18 tahun.
Selain membesarkan anak, Jahantab harus pekerja di ladang untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Meski berasal dari keluarga yang tidak mampu, Jahantab mempunyai mimpi untuk menyelesaikan kuliah suatu hari.

Pemandangan ini membuat seorang Profesor Yahya Erfan terharu. Prof. Yahya merupakan salah satu pengawas ujian.
Dia memotret Jahantab dan menguploadnya ke sosial media. Foto ini pun mengundang pujian dan tawaran bantuan keuangan untuk Jahantab.

Selain itu, kampanye yang diluncurkan Asosiasi Pemuda Afghanistan di situs penggalangan dana GoFundMe berhasil mengumpulkan uang senilai 14 ribu dolar AS (sekitar 191 juta rupiah) untuk Jahantab.
Dana tersebut cukup besar mengingat ada 39% warga Afghanistan yang hidup dalam kemiskinan.

AFP juga mengunjungi tempat tinggal Jahantab di daerah pedesaan terpencil di Provinsi Daikundi.
Melihat orang-orang mengunjunginya, Jahantab sangat terkejut. Ternyata dia tidak tahu bahwa fotonya telah tersebar di sosail media.

“Aku tidak ingin berhenti belajar. Aku ingin bekerja di luar rumah.
Aku ingin menjadi dokter untuk melayani wanita di komunitas atau masyarakatku.” katanya kepada reporter.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *